IBNU SINA
MAKALAH INI DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT UMUM
Disusun Oleh :
PRITA DELITA & RIKA JOHAR
Dosen pembimbing :
Bpk. Taufik, M.Si.
FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM (STAIDA)
JAKARTA 2009
IBNU SINA
A. Riwayat Ibn Sina
Abu Ali Husein Ibnu Abdillah Ibnu Sina lahir di Afsyana, di dekat Bukhara di tahun 980 M. orang tuanya berkedudukan sebagai pegawai tinggi pada pemerintahan dinasti Samani. Menurut sejarah hidupnya yang disusun oleh muridnya, jurjani, dari semenjak kecil ibnu Sina telah banyak mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan yang ada di zamannya, seperti fisika, matematika, kedokteran, hukum dan lain-lain. Sewaktu berumur 17 tahun ia telah dikenal sebagai dokter dan atas panggilan istana, pernah mengobati pangeran Nuh Ibnu Mansur sehingga pulih kembali kesehatannya. Setalah orang tuanya meninggal, ia pindah ke juzjan, suatu kota di Laut Kaspia, dan di sanalah ia mulai menulis ensiklopedinya tentang ilmu kedokteran yang kemudian terkenal dengan nama ( ). Kemudian ia pindah ke Rai, suatu kota di sebelah taheran, dan bekerja untuk Ratu Sayyidah dan anaknya Majd al-Dawlah. Kemudian sultan Syams al-Dawlah yang berkuasa di Hamdan (dibagian barat dari iran) mengangkat Ibnu Sina menjadi menterinya. Kemudian sekali ia pindah ke Isfahan dan meninggal ditahun 1037 M.
B. Pemikirn-pemikiran filsafat Ibnu Sina
I. Falsafat Jiwa
Pemikiran terpenting yang dihasilkan oleh Ibnu Sina ialah falsafatnya tentang jiwa.
Ibnu sina berpendapat bahwa akal pertama mempunyai dua sifat :
1. Sifat wajib wujudnya sebagai pancaran dari Allah.
2. Dan sifat mungkin wujudnya jika ditinjau dari hakikat dirinya.
Ibnu Sina membagi jiwa dalam tiga bagian :
1) Jiwa tumbuh-tumbuhan.
2) Jiwa binatang.
3) Jiwa manusia.
Akal mempunyai empat tingkatan yaitu :
1. Akal materiel
2. Intelluctus in habitu
3. Akal actual
4. Akal Mustafad
Sifat sesesorang bergantung pada jiwa mana dari ketiga macam jiwa tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia yang berpengaruh pada dirinya. Jika jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang yang berkuasa pada dirinya, maka orang itu dapat menyerupai binatang. Tetapi jika jiwa manusia yang mempunyai pengaruh atas dirinya, maka orang itu dekat menyerupai malaikat dan dekat dengan kesempurnaan.
Dalam hal ini daya praktis mempunyai kedudukan penting. Daya inilah yang berusaha mengontrol badan manusia, sehingga hawa nafsu yang terdapat dalam badan tidak menjadi halangan bagi daya teoritis untuk membawa manusia kepada tingkatan yang tinggi dalam usaha mencapai kesempurnaan.
Menurut pendapat Ibnu Sina jiwa manusia merupakan satu unit yang tersendiri dan mempunyai wujud terlepas dari badan. Jiwa manusia timbul dan tercipta tiap kali ada badan, yang sesuai dan dapat menerima jiwa, lahir di dunia ini. Sesungguhnya jiwa manusia tidak mempunyai fungsi-fungsi fisik, dan demikian tak berhajat pada badan untuk menjalankan tugasnya sebagai daya yang berpikir, jiwa masih berhajat pada badan. Karena pada permulaan wujudnya badanlah yang menolong jiwa manusia untuk dapat berpikir. Panca indra yang lima dan daya-daya batin dari binatanglah yang menolong jiwa manusia untuk dapat berpikir.
II. Falsafat Wahyu dan Nabi
Akal mempunyai empat tingkat dan yang terendah diantaranya ialah ( )“akal materiel”. Adakalanya tuhan menganugrahkan kepada manusia akal materiel yang besar lagi kuat, yang oleh Ibnu Sina diberi nama al-hads yaitu intuisi. Daya yang ada pada akal materiel seperti ini begitu besarnya, sehingga tanpa melalui latihan, dengan mudah dapat menerima cahaya atau wahyu dari tuhan. Akal yang seperti ini mempunyai daya suci ( ). Inilah bentuk akal tertinggi yang dapat diperoleh manusia, dan hanya terdapat pada nabi-nabi.
III. Falsafat Wujud
Bagi Ibnu Sina wujudlah yang terpenting dan yang mempunyai kedudukan di atas segala sifat lain,walaupun esensi sendiri. Esensi, dalam paham Ibnu Sina terdapat dalam akal, sedang wujud terdapat di luar akal. Wujudlah yang membuat tiap esensi yang dalam akal mempunyai kenyataan di luar akal. Tanpa wujud, esensi tidak besar artinya. Oleh sebab itu wujud lebih penting dari esensi. Tidak mengherankan kalau dikatakan bahwa Ibnu Sina telah terlebih dahulu menimbulkan falsafat wujudiyah atau eksistensialisme dari filosof-filosof lain.
Jika dikombinasikan. Esensi dan wujud dapat mempunyai kombinasi berikut :
1.Esensi yang tak dapat mempunyai wujud, dan hal yang serupa ini disebut oleh Ibnu Sina, (mumtani) yaitu sesuatu yang mustahil berwujud.
2.Esensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak mempunyai wujud. Yang serupa ini disebut (mumkin), yaitu sesuatu yang mungkin berwujud tetapi mungkin pula tidak berwujud.
3.Esensi yang tak boleh tidak mesti mepunyai wujud. Di sini esensi tidak bisa dipisahkan dari wujud, esensi dan wujud adalah sama satu.
REFERENSI
Madkur, Ibrahim, Dr, Aliran dan teori filsafat islam. (bumi askara : Jakarta 1995).
Nasution Harun, Falsafat dan Mastisisme dalam Islam. (PT, Bulan Bintang : Jakarta. 1999 ).
Kamis, 04 November 2010
ibnu sina
Diposting oleh Neng Itha di 08.51
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)

0 komentar:
Posting Komentar